Rabu, 13 Januari 2016


Diet Nefrolitiasis (Batu Ginjal)
Batu ginjal terbentuk bila konsentrasi mineral atau garam dalam urin mencapai nilai yang memungkinkan terbentuknya Kristal, yang akan mengendap pada tubulus ginjal atau ureter. Meningkatnya konsen trasi garam-garam ini dsebabkan adanya kelainan metabolism atau pengaruh lingkungan. Sebagian besar batu ginjal merupakan garam kalsium, fosfat, oksalat, serta asam urat. Batu ginjal lainnya adalah batu sistin tetapi jarang terjadi.
     Batu ginjal lebih banyak di temukan pada orang dewasa laki-laki dari pada orang dewasa perempuan. Hiperkalsiura, hiperurikosuria, hiperoksalouria,hiperoksalouria, rendahnya volume dan pH urin merupakan faktor risiko terjadinya batu ginjal. Asupan cairan yang tinggi (2,5-3 liter/hari) dapat menghasilkan paling kurang 2 liter urin/hari, dapat mencegah terbentuknya berbagai jenis batu ginjal. Kebutuhan cairan bertambah dengan adanya kenaikan suhu pada lingkungan dan peningkatan aktivitas. Sepora cairan hendaknya adalah air putih.
      Gejala batu ginjal adalah rasa nyeri pada abdomen, mual, muntah, infeksi pada saluran kemih, dan sering buang air kecil. Penyakit ini sering kambuh kembali. Agar bisa dilakukan  upaya penyembuhan yang tepat, hendaknya dilakukan analisis terhadap jenis batu dan penyakit yangmenjadi penyebabnya.
TUJUATN DIET
 Tujuan diet Nefrolitiasis (batu ginjal) adalah untuk:
1. mencegah atau memperlambat terbentuknya kembali batu ginjal.
2. meningkat ekskresi garam dalam urin dengan cara mengencerkan urin melalui  peningkatan asupan cairan.
3. memberikan diet sesuai dengan kompenan utama batu ginjal.
 Syarat Diet
1. Energi diberikan sesuai dengan kebutuhan.
2. Protein sedang, yaitu 10-15% dari kebutuhan energy total.
3. Lemak sedang, yaitu 15-25% dari kebutuhan energi total.
4.Kabohidrat, sisa dari kebutuhan energi total.
5.Cairan tinggi, yaitu 2,5-3 liter/hari, separonya berasal dari minuman.
6. pembatasan makanan sesui dengan jenis batu.










 Diet Batu Kalsium Oksalat dan Kalsium  Fosfat
Sebagian besar batu ginjal terdiri dari batu oksalat (80 %), tunggalk atau brgabung dengan kalsium  fosfat. Umumnya hiperkalsium (> 200 mg dalam urin sehari) terjadi karena tingginya absorpsi kalsium. Penyebabnya bermacam-macam, yaitu hiperparatiroidisme, hiperrurikosuria, hiperkalsiuria indiopatik, hiperroksaluria, dan sitrat dalam urin rendah, pengobatan utamanya adalah dengan memperbaiki penyebabnya secara usus.
Hiperkalsiuria dibagi dalam 2 kelompok , yaitu tipe 1, yang tidak tergantung pada diet (kalsium dalam urin tidak terngantung pada asupan kalsium) dan tipe 2, yang terngantung pada diet ( Kalsium urin tinggi, jika asupan kalsium tinggi). Hiperkalsuria tipe 1 dianjurkan mengkomsumsi kasium ade kuat tetapi tidak berlebiahan. Hiperkalsiuria tipe 2 dianjurkan mengontrol asupan kalsium dalam batas-batas normal, yaitu 500-800 mg untuk laki-laki dan 500-600 mg untuk perempuan pembatasan kalsium tidak dianjurkan, karena dapat menyebabkan keseimbangan kalsium negative dan meningkatkan absorbs oksalat, sehingga meningkatkan resiko pembentukan batu. Asupan asam oksalat dalam makanan hendaknya dibatasi.
Tujuan Diet
Tujuan Diet Batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat adalah untuk mencegah atau memperlambat terbentuknya batu kalsium fosfat.
Syarat Diet
Syarat-syarat Diet Batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat adalah:
1. Energi sesuai dengan kebutuhan.
2. protein sedang, yaitu 10-15% dari kebutuhan energy total atau 0.8 g/kg BB/ hari.
3. Lemak normal, yaitu 10-25% dari kebutuhan energi tersebut.
4. Karborhidrat, sisa dari kebutuhan energy total.
5. Cairan tinggi, yaitu 2,5-3 liter/ hari, separo brerasal dari minuman.
6. Nutrium sedang, yaitu 2300 mg(seteran dengan 5 gram garam dapur), karena natrium dapat memicu hiperkalsiuria.
7. Kalsium normal , yaitu 500-800 mg/hari. Pembatasan kalsium tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan keseimbangan kalsium negatif.
8. Serat tidak larut air tinggi, karena serat dapat mengikat kalsium, sehingga membatasi penyerapannya.
9. Oksalat rendah dengan membatasi makanan tinggi oksalat.
10. fosfat normal. Diet rendah fosfat ternyata tidak dapat mencegah pembentukan batu fosfat.





Bahan Makanan yang Dibatasi
Sumber kalsium :* susu dan keju serta makanan yang dibuat dari susu.
                              *teri dan ikan yang dimakan dengan tulang makanan.
Sumber oksalat  :makanan yang dapat meningkatkan ekskresi oksalat
                               Melalui ginjal yaitu kentang, ubi, bayam, bit, stroberi,
                               Anggur, kacang-kacang, the, cokelat.
Diet Batu Asam Urat
Batu asam urat berkaitan dengan penyakit gout artritis, yaitu penyakit yang bersifat malignant dan penyakit gastrointestinal yang disertai dengan diare. Penyakit ini berpengaruh terhadap metabolisme purin. Batu asam urat terbentuk karena hiperurikemia, dehidrasi, atau nilai pH urin yang rendah (bersifat asam). Makanan yang mengandung purin tinggi, umumnya menghasilkan urin yang bersifat asam dan meningkatkan ekskresi asam urat melalui urin. Oleh sebab itu, di samping meningkatkan asupan cairan dan menghindari makanan yang mengandung purin tinggi, perlu diusahakan untuk meningkatkan pH urin.
Bahan Makanan yang Cenderung menghasilkan Sisa Asam Tinggi :
Sumber Karbohidrat  : nasi, roti dan hasil terigu lainnya; makaroni, spageti, cereal, mi, cake, dan kue kering.
Sumber protein          : daging, ikan, kerang, telur, keju, kacang.
Sumber lemak            : lemak hewan.
Bahan Makanan yang Bersifat Netral
Sumber karbohidrat   : jagung, topioka, gula, sirup, dan madu.
Sumber lemak             : minyak goreng selain minyak kelapa,margarine.
Minuman                     : kopi dan teh.  

















Daftar pustaka
Bagian Gizi RS. Dr. Cipto Mangunkusumo dan persatuan Ahli Gizi Indonesia. Penuntun Diet. Management. The Lancet. 358: August 25, hh. 651-656, 2001.
















Isu Malpraktik Dalam Pelayanan kesehatan

1. Latar Belakang Terjadinya Tuntutan Malpraktik
    a. Dalam pelaksanaan praktik asuhan keperawatan sejak telah dimulainya pengkajian maka telah terjadi kerjasama, kesepakatan dan persetujuan atau transaksi teraupetik antara perawat dengan pasien/klien.
   b. pada transaksi tersebut masing-masing pihak, telah terjadi perikatan atau hubungan hokum (KUH perdata pasal : 1313), antara dua orang (perawat dan pasien/Klien). Dimana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu dari pihak yang lain. Sedangkan pihak yang lain itu berkewajiban memenuhi tuntutan itu. Pasien/klien menuntut kepada perawat untuk melakukan tindakan asuhan keperawatan dengan harapan hasilnya dapat memperbaiki masalah kesehatannya dan memperoleh kepuasan.
   c. Bila hasil yang didapat tidak sesuai dengan yang diharapkan, dan bahkan dianggap merugikan, pasien tersebut berpendapat perawat telah berbuat malpraktik dan akan mengajukan tuntutan Malpraktik ke pihak peradilan.




2. Pengertian
    a.  Malpraktik terjemahan dari Malpractice, Mal berarti salah satu atau jelek/Buruk, practice berarti praktik.
   b.  Medical Malpractice adalah kesalahan dalam melaksanakan profesi tenaga kesehatan yang meliputi dokter, perawat, dan bidan.
   c.   Malpraktik Keperawatan adalah tindakan yang salah oleh perawat pada waktu menjalankan praktik keperawatan yang menyebabkan kerusakan atau kerugian bagi kesehatan dan kehidupan pasien/klien, serta menggunakan keahlian keperawatan untuk kepentingan pribadi.

3.  Penyebab Malpraktik
     a.   Malpraktik terjadi karena tenaga kesehatan/perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan lalai, lupa dan gagal dalam mengkomunikasikan atau member informasi secara lengkap dan jelas atas prosedur tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien beserta efek samping yang menyertainnya.
     b.   Penjelasan dan persetujuan (Informed Consent) terhadap tindakan yang akan dilakukan atas diri pasien serta akibat yang ditimbulkannya merupakan upaya untuk meminimalkan kasus dugaan Malpraktik.
     c.   Secara teoritis kesalahan malpraktik dapat disebabkan oleh 2 (dua) hal, yaitu :
1)  Kesengajaan (intentional Dolus) dikelompokkan tindakan melawan hokum/ melanggar UU.
2)  Kelalaian (Kealpaan) (Culpa = Negligence) melakukan tindakan yang seharusnya dikerjakan.
         Tolok Ukur, adanya Culpa (Negligence) adalah tindakan pelaku yang tidak memenuhi standar hati-hati yang wajar dan tidak membayangkan akibat dari perbuatannya.
a)   Bila kelalaian berakibat hanya merugikan pasien, maka ini disebut Culpa Levis (Kelalaian Ringan), dan ini sering berhubungan dengan pelanggaran dibidang Hukum perdata (Misal : Pasal 1366- 1367 KUH Perdata) dan Etika.
b)   Bila kelalaian mencapai tingkat tertentu sehingga berakibat merugikan atau mencelakakan orang lain atau bahkan merenggut nyawa orang, maka tingkat kelalaian diklasifikasikan sebagai Kelalaian Berat (Culpalata), Gross Negligence dan ini sering berhubungan dengan Hukum Pidana.

3)   Tuntutan terhadap bentuk kelalaian terhadap pada Undang-Undang RI No 36 tahun 2009, disebutkan :
Pasal 58 
(1)   Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang tenaga kesehatan dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya.
(2)   Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.
4.   Faktor Pengaruh Meningkatnya Tuntutan Malpraktik
               Berbagai alas an untuk menjelaskan makin meningkatnya tuntutan Malpraktik sebagai berikut :
a.   Perubahan hubungan Dokter / Perawat dengan pasien / klien.
b.   Makin meningkatnya Kesadaran hokum masyarakat.
c.   Tuntutan pelayanan kesehatan yang semakin luas dan bermutu.
d.   Perubahan pandangan hidup, social budaya, dan lain-lain.
e.   Dampak globalisasi

5.    Jenis Malpraktik
       Malpraktik ada 3 (tiga) jenis yaitu :
a.    Malpraktik Kriminil
                     Malpraktik kriminil adalah kesalahan dalam menjalankan praktik yang berkaitan de3ngan pelanggaran hukum pidana.

        Pelanggaran KUH Pidana tersebut antara lain berhubungan dengan:
1) Menyebabkan Pasien mati / luka berat karena kelainan (KUH Pidana, pasal : 359- 360).
2) Melakukan Abortus Provokatus (KUH Pidana, Pasal : 347 atau UU No.: 23 tahun 1992, pasal : 80 ayat (1))
3) Melakukan Pelanggaran Kesusilaan / Kesopanan (KHUP pasal : 285)
4) Membuka rahasia Kedokteran (KUHP pasal : 322, atau KUH Perdata, pasal : 1366- 1367)
5) Pemalsuan Surat Keterangan (KUHP pasal : 263-267)
6) Bersepakat melakukan tindakan pidana (KUHP pasal : 221)
7) Sengaja tidak memberikan pertolongan pada orang yang dalam keadaan bahaya (KUHP pasal : 304 – 531).
                                
b. Malpraktik Sipil
Dasar hukum makpraktik sipin adalah hukum perdata.
    1. adanya kontrak terapeutik perawat – pasien dimana perawat
        Bersedia memberikan pelayanan perawat kepada pasien dan
        Pasien bersedia membayar sejumlah honor kepada perawat 
        Tersebut.
    2. pasien yang merasa dirugikan berhak menggugat ganti rugi kepada
        Perawat yang tidak melaksanakan kewajiban kontraknya dengan
        Melakukan kesalahan professional berdasarkan pasal :1366-1367-
        1371 KUH perdata.


c. Malpraktik Etik
   1. pelemggaran etika profesi tidak berakitan kerugian pada orang lain
       Tetapi lebih ditekatkan pada pelanggaran terhadap kode Etik
        Profesi.
    2. Sanksi Etik bersifat edukatif/Administratif seperti: teguran.















Daftar Pustaka
La Ode Jumadi Gaffar. 1999. Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta; EGC.
















Asumsi Dan Model Berpikir Kritis T.H.I.N.K
Asumsi berpikir (think) adalah Komponen dasar yang meliputi pikiran, perasaan, dan bekerja bersama/sejalan dengan keperawatan. Ada beberapa asumsi tentang berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
1) Asumsi Pertama dalah berpikir kritis melibatkan pikiran, perasaan, dan bekerja yang ketiganya merupakan keseluruhan komponen penting bagi perawat professional  yang bekerja bersama-sama Berpikir tanpa bekerja adalah sia-sia, bekerja tanpa berpikir akan melahirkan bahaya, sedangkan berpikir dan bekerja tanpa perasaan adalah hal yang sangat tidak mungkin (Impossible). Pengenalan nilai-nilai keterkaitan antara pikiran, perasaan, dan bekerja merupakan tahap penting dalam memulai praktik professional. Misalnya, seseorang perawat dalam memberikan pendidikan kesehatan pada klien tentu membutuhkan pikiran tentang cara melakukannya, perasaan tentang hubungan interpersonal, dan melakukan penyuluhan tersebut.
2) Asumsi Kedua, berpikir kritis memerlukan pengetahuan walaupun pikiran, perasaan, dan bekerja adalah sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam keadaan nyata dalam praktik keperawatan, tetapi dapat dipisahkan menjadi bagian-bagian untuk proses pembelajaraan. Contohnya, melaksanakan pendidikan kesehatan dan metode dalam memberikan penyuluhan kesehatan dipelajari pada materi yang berbeda.
3) Asumsi Ketiga, berpikir kritis dalam keperawatan bukan sesuatu yang asing, karena sebenarnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
4) Asumsi Keempat, berpikir kritis dapat dipelajari melalui bacaan. Para pembaca dapat belajar bagaimana cara meningkatkan ke mampuan berpikirnya.
5) Asumsi Kelima, berpikir kritis adalah cara berpikir secara sistematis dan efektif.
6) Asumsi Keenam, berpikir kritis dalam keperawatan adalah campuran dari beberapa aktivitas berpikir yang berhubungan dengan konteks dan situasi di mana proses berpikir itu terjadi. Hal ini merupakan proses yang kompleks dan tidak sederhana.
Lima model yang dikembangkan dalam berpikir kritis pada praktik keperawatan adalah total recall, habits, inquiry, new idea and creativity, dan knowing how you think. Seorang perawat dikatakan dapat berpikir kritis adalah apabila dapat menggunakan semua model tersebut dalam segala waktu.
1. Total recall/Kemampuan mengingat
Total Recall atau Kemampuan mengingat kembali adalah kemampuan mengingat kembali fakta dimana dan bagaimana menemukan pengalaman dalam memorinya ketika dibutuhkan. Fakta-fakta keperawatan didapatkan berasal dari berbagai sumber, baik di kelas, buku, informasi, dari klien atau sumber lainnya. Misalnya, data-data tentang klien dapat ditemukan dalam pengumpulan data. Selain itu, dapat dikatakan juga sebagai kemampuan untuk mengakses pengetahuan, karena pengetahuan menjadikan sesuatu dapat dipelajari dan disimpan dalam pikiran. Setiap orang mempunyai berbagai kelompok pengetahuan yang bervariasi di dalam pikirannya.
 Total Recall sangat bergantung pada kemampuan memori otak. Memori adalah suatu proses yang kompleks, yaitu proses untuk mengingat kembali hal-hal yang berhubungan dengan fakta-fakta dari beberapa pengalamannya. Kemampuan mengkaji pengetahuan sangat penting, karena dengan pengetahuan itu seseorang belajar dan mengaplikasikan ilmunya. Sebagai contoh, perawat telah sering melakukan intervensi keperawatan pemberian obat intravena. Demi kepentingan evaluasi dan peningkatan aktivitasnya di kemudian hari, perawat tersebut mencoba mengingat kembali apa dan bagaimana pemberian obat intravena yang pernah dilakukan. Selanjutnya, mereka akan coba membandingkan dengan standar, mencari kesenjangan yang terjadi, serta coba menjawab mengapa kesenjangan itu terjadi.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa total recall adalah mengingat fakta-fakta di mana dan mengapa serta menemukan sesuatu yang diperlukan dan fakta dalam keperawatan yang diperoleh dari berbagai sumber termasuk klien dan keluarganya.
2. Habits/Kebiasaan
Pola pikir yang diulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan baru (second nature) yang secara spontan dapat dilakukan. Hasil dari kebiasaan tersebut menjadi cara baru dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Orang sering mengartikan bahwa suatu keadaan itu dilakukan tanpa berpikir. Hal itu sebenarnya bukan perilaku kebiasaan, tetapi hanya proses berpikir untuk menjadi kebiasaan. Proses berpikir dalam suatu kebiasaan sudah tersusun secara sistematis dan dapat berjalan mendekati otomatis tanpa banyak waktu untuk mempertimbangkan penggunaan cara-cara baru dalam melakukan suatu aktivitas tertentu. Sebagai contoh, perawat mencuci tangan adalah sesuatu kebiasaan yang sangat berguna dalam profesi keperawatan, yang selanjutnya akan menjadi kebiasaan yang menetap.
3. Inquiry/Penyelidikan
Inquiry/penyelidikan adalah suatu penemuan fakta melalui pembuktian dengan pengujian terhadap suatu isu penting atau pertanyaan yang membutuhkan suatu jawaban. Penyelidikan merupakan buah pikiran utama yang digunakan dalam memperoleh suatu kesimpulan. Walaupun Kesimpulan dapat diperoleh tanpa harus menggunakan penyelidikan. Tetapi penggunaan penyelidikan akan menghasilkan suatu kesimpulan yang lebih dan akurat. Tahap penyelidiakn dalam praktek perawatan sangat penting. Dimana perawat harus mampu berpikir dengan membandingkan dan menganalisa antara informasi yang telah ditemukan dengan pengetahuan atau ilmu yang pernah dipelajari.
Penyelidikan dalam praktik keperawatan sangat penting terutama pada tahap pengkajian / Adapun tahapan penyelidikan meliputi :
·       Mencari atau mendapatkan suatu informasi tentang suatu hal.
·       Membuat rangkaian sementara dari informasi yang didapat.
·       Mengenali beberapa kesengajaan atau rangkuman yang dibuat.
·       Mengumpulkan informasi tambahan yang berhubungan dengan informasi pertama.
·       Membandingkan antara informasi baru dengan apa yang lebih dulu diketahuinya.
·       Mencoba beberapa pertanyaan dan analisis yang bias.
·       Mempertimbangkan satu atau lebih alternative kesimpulan.
·       Memvalidasi keaslian alternatif kesimpulan dengan lebih banyak informasi.

Sebagai contoh, dari hasil pengkajian perawat menemukan data adanya kemerah-merahan di bagian tulang yang menonjol. Perawat kemudian membandingkan dengan pengetahuan yang pernah dipelajarinya, lalu dianalisis untuk memperoleh suatu kesimpulan tentang kemerahan di bagian tulang yang menonjol tersebut. Dengan demikian, penyelidikan adalah proses menguji suatu isu secara mendalam, pertanyaan yang segera menjadi kenyataan, dan cara berpikir utama dalam pengambilan keputusan, sehingga keputusan akan lebih akurat dan analisis info untuk keputusan akan lebih baik.

4. New Ideas and Cretivity/Ide-Ide Baru dan Kreativitas
New ideas and Creativity (ide-ide baru dan kreativitas) adalah ide-ide dan kreativitas yang menekankan bentuk berpikir yang sangat khusus. Berpikir kreatif (creative thinking) adalah kebalikan dari kebiasaan (habits). Pemikir kreatif sangat menghargai adanya kesalahan dan perbedaan terhadap nilai-nilai yang dipelajarinya. Ide-ide baru dan kreativitas dasar perlu dikembangkan dalam keperawatan, karena keperawatan memiliki banyak standar yang dapat menjamin pekerjaan lebih baik, tetapi tidak selalu dapat dilakukan. Oleh karena itu, perawat harus lebih banyak belajar, sehingga memperoleh informasi baru yang berkualitas untuk melaksanakan praktik keperawatan. Sebagai contoh adalah bagaimana perawat menggunakan ide-ide dan kreativitasnya dalam menyiasati kurangnya peralatan dalam memberikan asuhan keperawatan.

5.Knowing How you Think/Tahu Bagaimana Kamu Berpikir
Knowing how you think (tahu bagaimana kamu berpikir) adalah kemampuan pengetahuan kita tentang bagaimana kita berpikir. Model “tahu bagaimana kamu berpikir” ini dapat membantu perawat bekerja secara kolaborasi dengan profesi kesehatan lain. Satu hal yang sangat penting dari tahu bagaimana kamu berpikir ini adalah mereka bekerja dengan refleksi, bagaimana yang telah perawat dan klien pikirkan dalam berkerja sama sewaktu menjalankan asuhan keperawatan. Misalnya, pada saat melakukan perawatan luka, maka perawat harus selalu berfikir dan menjawab tentang apa dan mengapa perawatan luka dihentikan, dan bagaimana keterlibatan nurani perawat dalam berempati saat melakukan tindakan itu.












Daftar pustaka
Goossen,R.W.T.F. 1996 “Nursing Information Manegement and Processing : A Framewok and Definition for System Analysis, Design, and Evaluation”, International Journal of Biomedical Computing , 40: 187-195.




Asuhan Keperawatan Yang Bermutu Tinggi
Asuhan keperawatan bermutu tinggi adalah tujuan perawat di semua praktik pelayanan keperawatan yang disebut “great nursing”.Keberhasilan mencapai tujuan asuhan keperawatan memerlukan keterampilan berpikir kritis dari pemberi asuhan keperawatan.Banyak faktor yang berpengaruh terhadap great nursing,yaitu:Klien,perawat,keterampilan berpikir,dan pengetahuan tentang proses keperawatan.Memahami bahwa klien sebagai individu,keluarga,kelompok,atau komunitas.
Perawat adalah seseorang yang memberikan asuhan keperawatan kepada Klien berdasarkan ilmu dan kemampuan yang telah diperolehnya dalam pendidikan formal perawat. Adapun keterampilan berpikir kritis adalah integrasi dari kemampuan total recall,habits,inquiry,new idea and creativity, dan knowing how you think. Pada umumnya,pengetahuan dijelaskan sebagai kumpulan informasi (aggregates of information ) yang diperoleh dari berbagai sumber.
Proses keperawatan adalah suatu pendekatan pemecahan masalah klien melalui apa yang dilakukan oleh seorang perawat professional dalam bentuk tindakan perawatan, yang meliputi pengkajian,diagnosis,perencanaan,implementasi,dan evaluasi.
Great nursing adalah suatu konsep yang susah didefenisikan secara sederhana, tetapi pada prinsipnya adalah aktivitas pelayanan perawatan untuk menjadi lebih baik dan aman.
Klien + Anda (perawat) + Keterampilan Berpikir + Pengetahuan + Proses keperawatan = Great nursing
Great nursing berfokus pada klien dan kesehatan seseorang yang naik, sehingga membutuhkan kreativitas individu sebagai kombinasi ilmu dan seni. Prinsip dari great nursing adalah menggunakan secara efektif semua komponen evaluasi dan keyakinan perawat bahwa klien adalah unik.














Daftar pustaka
Adam, M.H., J.G. Whitlow,L.M. Stover,dan K.W. Johnson, 1996. “Critical Thinking as An Education Outcome : An Evaluation of Current Tools of Measurement”,Nurse Education,21 (3),23-32.                                                                                


Prosedur perawatan Gigi dan Mulut
Dalam melakukan perawatan gigi dan mulut pada masa kehamilan,dokter gigi harus berhati-hati dengan mempertimbangkan perlindungan bagi ibu hamil dari calon bayi yang sedang berkembang, khususnya pada trimester pertama (Burket,1971 ;  Lynch, 1984). Adakalanya dokter gigi menghindari perawatan gigi dan mulut pada trimester pertsms dengan berdasarkan pertimbangan riwayat medis pasien, misalnya pada pasien yang mengalami rasa lesu, pusing, mual dan muntah-muntah. Waktu perawatan yang terbaik adalah pada trimester kedua (Lynch, 1984; Sculy dan Cawson 1993).
          Pada umumnya perawatan yang dilakukan terhadap pasien hamil dibatasi pada prosedur-prosedur operative yang sederhana, seperti penambalan karies gigi, pencabutan gigi yang tidak menimbulkan komplikasi dari tindakan skeling/root planing (Burket, 1971; Lynch, 1984; Barber untuk mengontrol penyakit yang sedang terjadi dan menyingkirkan faktor-faktor yang dapat memperburuk keadaan rongga mulut pada akhir kehamilan dan setelah melahirkan.
          Prosedur endodontic standart dapat dilakukan selama masa kehamilan, dilakukan dengan menggunakan tehnik yang asepsis dan menghindari keadaan yang dapat menimbulkan stress bagi pasien (Barber dan Graber, 1974).
Prosedur-prosedur yang dapat menimbulkan stress atau yang melelahkan bagi pasien, seperti pengambilan gigi terpendam sebaiknya dihindari atau ditunda dulu I (Burket,1971; McCarthy,1979). Prenancy tumor apabila menimbulkan gangguan, perdarahan yang berlebihan, dokter gigi dapat melakukan perawatan dengan pembedahan pada masa kehamilan. Perawatan yang dilakukan yaitu dengan melakukan eksisi, kauterisasi atau gingivektomi di bawah anestesi lokal (Barber dan Graber, 1974; Killey, 1979; Sonis dkk, 1995).

Radiografi gigi.
Penggunaan radiograph sebaiknya dihindari terutama pada trimester pertama dari kehamilan. Pada saat ini perkembangan janin sangat peka terhadap radiasi (Lynch,1984;ScuLLy dan Cawson,1993; Sonis dkk,1995). Bila wanita hamil terkena radiasi akan mengakibatkan keguguran, perubahan bentuk atau kelainan pertumbuhan pada janin dan kematian pada janin yang sedang dikandung (Lukman, 1995).
Apabila radiograph diperlukan sekali, terutama untuk membantu menegakkan diagnosa yang tepat, pada pasien hamil harus diberikan pengamanan untuk menghindari terjadinya pengaruh negative radiasi pada janin. Baju timah atau apron dapat digunakan sebagai perlindungan yang adekuat (Lynch,1984; Sonis dkk,1995 Lukman,1995).
Pemakaian obat-obatan.
Pemberian obat-obatan pada masa kehamilan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Seperti kita ketahui, dalam kedokteran gigi obat-obatan berfungsi untuk menyempurnakan hasil perawatan gigi yang dilakukan. Tetapi pada pasien hamil sebaiknya pemberian obat-obatan sedapat mungkin dihindari, terutama pada trimester pertama (Mc Carthy,1979; Scully dan Cawson,1993; Sonis dkk,1995). Hal ini bertujuan untuk menghindari kemungkinan terjadinya pengaruh teratogenik obat pada janin. Penganuh teratogonik yaitu terjadinya gangguan pertumbuhan janin, merupakan kejadian yang sungguh penting karena dapat menyebabkan kematian janin dalam rahim, keguguran dan cacat bawaan yang  sementara ataupun menetap (Samin, 1986). Faktor penentu terjadinya pengaruh teratogenik pada penggunaan obat bagi wanita hamil yaitu status fisiologi ibu, status patologi ibu, usia kehamilan saat pemberian obat, kemudahan filtrasi obat melalui plasenta,dosis dan lama terapi obat dan daya teratogenik obat (Samin,1986).
Beberapa obat-obatan yang biasa digunakan di kedokteran gigi belum menunjjukan pengaruh yang buruk pada janin (Mc Carthy,1979; Scully dan Cawson, 1993; Sonis dkk,1995). Tetapi ada obat-obatan yang dengan cepat dapat melalui plasenta, dan setiap dokter gigi harus sadar akan kemungkinan pengaruh negative yang mengenai janin (Salim, 1980; Lynch,1984).

B. Program Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut Kehamilan
Keperluan akan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada masa kehamilan untuk diperhatikan. Adanya kerusakan gigi atau pendarahan dan pembengkakan gusi atau gejala lainnya di rongga mulut akan menimbulkan berbagai gangguan terutama pada waktu makan (Adyatmaka,1992).
Untuk mencegah timbulnya gangguan di rongga mulut selama masa kehamilan, perlu diciptakan tingkat kebersihan mulut yang optimal. Pelaksanaan program kontrol  plak penting dilakukan untuk mencegah peradangan pada gingival akibat iritasi lokal, gangguan keseimbangan hormonal dan kelainan-kelainan di rongga mulut selama masa kehamilan.
Ada beberapa hal yang perlu ditekankan kepada ibu hamil dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut agar terhindar dari penyakit gigi dan mulut selama masa kehamilan, yaitu :
1. Bila ibu hamil mengalami muntah-muntah, setelah ini segera
    Bersihkan mulut dengan berkumur-kumur atau menyikat gigi.
2. Mengatur pola makanan dan menghindari makanan yang bersifat
    Kariogenik.
3. Menyikat gigi secara teratur.
4.Memeriksakan keadaan rongga mulut ke dokter gigi. Kunjungan ke
    dokter gigi pada masa kehamilan bukanlah merupakan hal yang
    kontraindikasi. []








Daftar pustaka :
Binstock MA, Wolde-Tsadik G. 2005. Alternative prenatal care: impact of reduced visit frequency, focused visits and continuity of care. J Reprod Med 2005; 157: 158-61.
                





  


Amputasi
A.Defenisi
          Hilangnya sebagian alat gerak yang menyebabkan ketidakmampuan sesorang dalam derajat yang bervariasi (tergantung dari luas hilangnya alat gerak, usia pasien, ketepatan operasi dan manajemen paksa operasi). (Turck SL) kehilangan sebagian alat gerak akan menyebabkan ketidakmampuan seseorang untuk melakukan aktivitas. Kehilangan alat gerak tersebut dapat disebabkan berbagai hal, seperti penyakit, faktor cacat bawaan lahir, ataupun kecelakaan. Operasi pengangkatan alat gerak pada tubuh manusia ini disebut dengan Amputasi. (D.jumeno)
          Amputasi dapat dianggap sebagai jenis pembedahan rekonstruksi drastic, digunakan untuk menghilangkan gejala, memperbaiki fungsi dan menyelamatkan atau memperbaiki kualitas hidup pasien.
B.Etiologi
Indikasi utama bedah amputasi adalah karena :
1. Iskemia karena penyakit reskulasisasi perifer biasanya pada orang    tua seperti klien dengan artherosklerosis, diabetes mellitus.
2. Trama amputasi bisa diakibatkan karena perang, kecelakaan, tremal injury, seperti terbakar, tumor, infeksi, gangguan metabolisme seperti pagets diseae dan kelainan kegenital.
Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas terbagi menjadi dua letak amputasi yaitu:
1. Amputasi dibawah lutut (below knee amputation)
    2. Ekstremitas diatas lutut

C. Manifestasi Klinis
     Dampak masalah terhadap system tubuh
     Kecepatan metabolism
 Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolism basal.
    Ketidakseimbangan cairan dalam elektrolit
 Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses ketabolisme lebih besar dari anabolisme, maka akan mengubah tekanan osmotic kolid plasma, hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luas keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan membarikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghemat pengeluaran ADH, sehingga terjadi peningkatan  dieresis.
1. System respirasi
     a. Penurunan kapasitas paru
         Pada klien immobilisasi dalam posisi barang terlentang, maka        kontraksi otot intercosta relative kecil, diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa.
     b. perubahan perfungsi setempat
           dalam posisi tidur terlentang, pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfungsi setempat, jika secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolism (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia.
       c. Mekanisme batuk tidak efektif
          akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi muklus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal.
2. System kardiovaskuler
a. Peningkatan denyut nadi
terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor       metabolic, endokrin dan metabolisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergic sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi.
b. Penurunan cardiac reserve
        Dibawah pengaruh adrenergic denyut jantung meningkat, hal   ini mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup.
c. Orthostatik Hipotensi
 pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer,  dimana anterior dan venula tungkai berkontaksi tidak adekuat, vasolidatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah, volume darah yang bersikulasi menurun, jumlah darah ke ventrikel saat diastolic tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun, akibatnya klien merasa pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan.
3. Sistem Muskuloskeletal
 a. Penurunan kekuatan otot
      Dengan adanya immobilisasi dan gangguan system vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan, demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan otot.
b. Atropi otot
    Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan fungsi persarafan. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot.
c. Kontraktur sendi
    Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya keterbatasan gerak.
   d. Osteoporosis
 Terjadi penurunan metabolism kalsium. Hal ini menurunkan persenyawaan organic dan anorganiksehingga masa tulang menipis dan tulang menjadi keropos.
4. Sistem pencernaan
a. Anoreksia
          Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi kelencar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan.
   b. Konstipasi
   Meningkatnya jumlah adrenergic akan menghambat pristaltik usus dan spincter anus menjadi kontraksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon, menjadikan faeces lebih keras dan organ sulit buang air besar.
5. Sistem perkemihan
Dalam kondisi tidur terlentang, renal pelvis ureter dan    kandungan kencing berada dalam keadaan sejajar, sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi, pelvis renal banyak menahan urine sehingga menyebabkan:
a. Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah          membentuk batu ginjal.
 b. Tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan  berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan ISK.
6. Sistem integument
 Tirah baring yang lama, maka tubuh bagian bawah seperti  punggung dan bokong akan tertekian sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan,. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi ischemia, hypermis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dankulit dimasase untuk meningkatkan suplai darah.
Pemeriksaan penunjang
1. Foto  rontgen : Mengidentifikasi abnormalitas tulang.
2. Skan CT           : Mengidentifikasi lesi neoplastik, osteomielitis, pembentukan hematoma.
3. LED                  : Mengindikasi respons inflamasi
4. Kultur luka     : Mengidentifikasi adanya luka/infeksi dan organisme penyebab.
5. Biopsy             : Mengkonfirmasikan diagnose masa benigna/maligna.
Penatalaksanaan amputasi
Amputasi dianggap selesai setelah dipasang prosthesis yang baik dan berfungsi:                      
1. Rigid dressing
     Yaitu dengan menggunakan pleter of paris yang dipasang waktu dikamar operasi. Pada waktu pemasang harus direncanakan apakah penderita harus immobilisasi atau tidak. Bila tidak memasang segera dengan memperharikan jangan sampai menyebabkan konstiksi stump dan memasang balutan pada ujung stump serta tempat-tempat tulang yang menonjol. Setelah pemasangan rigid dressing bisa dilanjutkan dengan mobilisasi segera, mobilisasi setelah, 7-10 hari post operasi dengan mobilisasi segera, mobilisasi setelah luka sembuh. Setelah 2-3 minggu setelah luka stump dan mature.
2. Soft dressing
Yaitu bila ujung stump dirawat secara konvensional, maka digunakan pembalut steril yang rapid an semua tulang yang menonjol dipasang bantalan yang cukup. Harus diperhatikan penggunaan elastic verban jangan sampai menyebabkan kontriksi pada stump. Ujung stump dielevasi dengan meninggikan kaki tempat tidur, melakukan elevasi dengan mengganjalkan bantal pada stump tidak baik sebab akan menyebabkan fleksi kontraktur. Biasanya luka diganti balutan dan drain dicabut setelah 48 jam. Ujung stump ditekan sedikit dengan sopt dressing dab pasien diizinkan secepat mungkin untuk berdiri setelah kondi8sinya mengizikan. Biasanya jahitan dibuka pada hari ke 10-14 post operasi. Pada amputasi diatas lutut, prenderita diperingatkan untuk tidak meletakkan bantal dibawah stump, hal ini perlu diperhatikan uuntuk mencegah terjadinya kontraktur.

D. Masalah yang Lazim Muncul      
      1. Hambatan mobilisasi fisik b.d kehilangan anggota tubuh
      2. Nyeri akut b.d terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan otot
      3. Deficit perawat diri b.d kurangnya kemampuan merawat diri
      4. Kerusakan integritas kulit b.d tirah baring yang lama
      5. Resiko infeksi b.d adanya luka yang terbuka
      6. Ganggaun citra tubuh.

E. Discharge Planning
1. Berikan dukungan terhadap penderita
2. Pelajari atau tanyakan alat bantu yang harus digunakan
3. Motifasi penderita untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki sehingga dapat menghilangkan perasaan harga diri rendah
4. Damping selalu penderita dalam melakukan aktifitas sebelum dapat beradaptasi dengan baik.
             
 
      







Daftar pustaka  
Arthur C. Guyton and john E. Hall (1997), Buku Ajar Fisiologi kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.


Rabu, 21 Oktober 2015

Penyakit Lupus

Mengenal gejala lupus dan penyebab penyakit lupus. Apa itu lupus? Penyakit lupusadalah peradangan kronis yang terjadi ketika sistem imun tubuh menyerang organ dan jaringan tubuh. Peradangan yang disebabkan oleh lupus dapat berefek pada berbagai sistem di dalam tubuh, antara lain sendi, kulit, ginjal, sel darah, jantung dan paru-paru.

Lupus lebih sering terjadi pada wanita, meskipun tidak jelas alasannya. Ada empat jenis lupus -systemic lupus erythematosus, discoid lupus erythematosus, drug-induced lupus erythematosus dan neonatal lupus. Diantaranya, systemic lupus erythematosus adalah yang paling umum dan paling serius.

Diagnosis dan perawatan terhadap lupus dapat memberikan perbaikan. Bagi banyak dari mereka dengan lupus, perawatan membantu mereka dapat hidup lebih aktif.

Ciri dan Gejala Penyakit Lupus


Dua kasus lupus tidak sepenuhnya serupa. Tanda dan gejela yang terjadi dapat datang dengan tiba-tiba atau berkembang secara perlahan, dapat ringan atau parah, dan dapat bersifat sementara atau permanen. Banyak dari mereka dengan lupus memiliki karakteristik episodik dengan tanda dan gejala yang memburuk untuk sementara waktu kemudian membaik atau bahkan hilang untuk satu waktu.

Tanda dan gejala lupus yang anda alami didasarkan pada sistem tubuh bagian mana yang terkena efek penyakit ini. Tapi secara umum, tanda dan gejala lupus antara lain:
  • Lelah
  • Demam
  • Hilang berat badan atau berat badan meningkat
  • Ruam yang berbentuk seperti kupu-kupu pada wajah yang menutupi pipi dan hidung
  • Luka pada kulit yang timbul atau parah ketika terkena sinar matahari
  • Radang pada mulut
  • Rambut rontok
  • Jari dan kuku yang memutih atau membiru ketika terkena dingin atau saat stress (Raynaud’s phenomenon)
  • Napas pendek
  • Nyeri pada dada
  • Mata kering
  • Mudah memar
  • Gelisah
  • Depresi
  • Hilang ingatan

Penyebab Penyakit Lupus


Lupus adalah penyakit autoimun yang muncul ketika tubuh terkena zat asing tertentu, seperti bakteri dan virus, kemudian sistem imun tersebut juga menyerang jaringan tubuh yang sehat. Hal ini menyebabkan peradangan dan kerusakan berbagai bagian tubuh, antara lain sendi, kulit, ginjal, jantung, paru-paru, pembuluh darah dan otak.

Dokter tidak mengetahui apa yang menyebabkan penyakit ini. Lupus seperti merupakan kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Banyak dari mereka dengan kecenderungan turunan mengalami lupus hanyak ketika mereka terkena sesuatu di dalam lingkungan yang dapat memicu lupus, seperti obat atau virus.

Jenis-Jenis Penyakit Lupus


  1. Systemic lupus erythematosus
    Lupus ini pada awalnya dapat berefek pada bagian tubuh manapun. Sistem di dalam tubuh yang secara umum terkena adalah sendi, kulit, paru-paru, ginjal dan darah. Ketika pada umumnya orang berbicara mengenai lupus, lupus tersebut biasanya adalah systemic lupus erythematosus.
  2. Discoid lupus erythematosus
    Lupus ini berefek hanya pada kulit. Mereka dengan lupus discoid mengalami ruam pada wajah, leher dan kulit kepala. Sejumlah kecil mereka dengan discoid lupus juga dapat mengalami systemic lupus erythematosus, meskipun tidak mungkin untuk memprediksi siapa saja yang akan mengalami bentuk lupus yang lebih serius.
  3. Drug-induced lupus erythematosus
    Lupus ini terjadi setelah anda menggunakan obat tertentu. Tidak semua orang yang menggunakan obat tersebut mengalami lupus. Lupus jenis ini berefek pada berbagai sistem di dalam tubuh. Tanda dan gejala biasanya hilang ketika anda berhenti menggunakan obat yang menyebabkan lupus jenis ini terjadi.
  4. Neonatal lupus
    Merupakan bentuk langka dari lupus yang berefek pada bayi yang baru lahir. Ibu degan antibody tertentu yang memiliki hubungan terhadap penyakit autoimun dapat menurunkannya pada bayi mereka –bahkan jika sang ibu tidak memiliki tanda maupun gejala penyakit autoimun tersebut. Neonatal lupus dapat hilang sebelum menunjukkan perkembangannya. Dalam kasus yang lebih serius dapat menyebabkan masalah pada sistem elektrik jantung (congenital heart block).

Faktor risiko penyakit lupus


Meskipun para doker tidak mengetahui apa yang menyebabkan lupus pada banyak kasus, mereka telah mengidentifikasi faktor apa saja yang meningkatkan risiko penyakit ini, antara lain:
  1. Jenis kelamin
    Lupus lebih umum pada wanita.
  2. Usia
    Meskipun lupus dapat berefek pada segala usia, termasuk bayi, anak dan orang dewasa, tetapi lupus paling umum terdiagnosis pada mereka yang berusia antara 15 sampai 40 tahun.
  3. Ras
    Lupus umumnya terdapat pada ras Afrika, Hispanics dan Asia.
  4. Sinar matahari
    Terkena sinar matahari dapat membawa pada lupus kulit atau memicu respon internal pada mereka yang rentan.
  5. Obat tertentu
    Obat tertentu yang digunakan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan drug-induced lupus. Banyak obat yang secara potensial dapat memicu lupus, sebagai contoh antara lain adalah antipsychotic chlorpromazine; obat tekanan darah tinggi, seperti hydralazine; obat tuberculosis isonoazid dan obat jantung procainamide. Biasanya membutuhkan jangka waktu penggunaan dalam beberapa bulan sebelum gejala timbul.
  6. Terinfeksi virus Epstein-Barr
    Merupakan virus yang biasanya tertidur di dalam sel dari sistem imun anda meskipun tidak jelas alasan mengapa dan apa yang membuat virus tersebut aktif kembali.
  7. Terkena zat kimia
    Beberapa studi menunjukkan bahwa mereka yang bekerja dan rentan terekspos merkuri dan silica memiliki peningkatan risiko lupus. Merokok juga dapat meningkatkan risiko mengalami lupus.

Nah, itulah saudara-saudara sekalian penjelasan mengenai gejala lupus dan penyebab penyakit lupus. Semoga bisa bermanfaat buat anda, setidaknya menambah pengetahuan.