Rabu, 13 Januari 2016


Amputasi
A.Defenisi
          Hilangnya sebagian alat gerak yang menyebabkan ketidakmampuan sesorang dalam derajat yang bervariasi (tergantung dari luas hilangnya alat gerak, usia pasien, ketepatan operasi dan manajemen paksa operasi). (Turck SL) kehilangan sebagian alat gerak akan menyebabkan ketidakmampuan seseorang untuk melakukan aktivitas. Kehilangan alat gerak tersebut dapat disebabkan berbagai hal, seperti penyakit, faktor cacat bawaan lahir, ataupun kecelakaan. Operasi pengangkatan alat gerak pada tubuh manusia ini disebut dengan Amputasi. (D.jumeno)
          Amputasi dapat dianggap sebagai jenis pembedahan rekonstruksi drastic, digunakan untuk menghilangkan gejala, memperbaiki fungsi dan menyelamatkan atau memperbaiki kualitas hidup pasien.
B.Etiologi
Indikasi utama bedah amputasi adalah karena :
1. Iskemia karena penyakit reskulasisasi perifer biasanya pada orang    tua seperti klien dengan artherosklerosis, diabetes mellitus.
2. Trama amputasi bisa diakibatkan karena perang, kecelakaan, tremal injury, seperti terbakar, tumor, infeksi, gangguan metabolisme seperti pagets diseae dan kelainan kegenital.
Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas terbagi menjadi dua letak amputasi yaitu:
1. Amputasi dibawah lutut (below knee amputation)
    2. Ekstremitas diatas lutut

C. Manifestasi Klinis
     Dampak masalah terhadap system tubuh
     Kecepatan metabolism
 Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolism basal.
    Ketidakseimbangan cairan dalam elektrolit
 Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses ketabolisme lebih besar dari anabolisme, maka akan mengubah tekanan osmotic kolid plasma, hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luas keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan membarikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghemat pengeluaran ADH, sehingga terjadi peningkatan  dieresis.
1. System respirasi
     a. Penurunan kapasitas paru
         Pada klien immobilisasi dalam posisi barang terlentang, maka        kontraksi otot intercosta relative kecil, diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa.
     b. perubahan perfungsi setempat
           dalam posisi tidur terlentang, pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfungsi setempat, jika secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolism (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia.
       c. Mekanisme batuk tidak efektif
          akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi muklus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal.
2. System kardiovaskuler
a. Peningkatan denyut nadi
terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor       metabolic, endokrin dan metabolisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergic sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi.
b. Penurunan cardiac reserve
        Dibawah pengaruh adrenergic denyut jantung meningkat, hal   ini mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup.
c. Orthostatik Hipotensi
 pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer,  dimana anterior dan venula tungkai berkontaksi tidak adekuat, vasolidatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah, volume darah yang bersikulasi menurun, jumlah darah ke ventrikel saat diastolic tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun, akibatnya klien merasa pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan.
3. Sistem Muskuloskeletal
 a. Penurunan kekuatan otot
      Dengan adanya immobilisasi dan gangguan system vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan, demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan otot.
b. Atropi otot
    Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan fungsi persarafan. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot.
c. Kontraktur sendi
    Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya keterbatasan gerak.
   d. Osteoporosis
 Terjadi penurunan metabolism kalsium. Hal ini menurunkan persenyawaan organic dan anorganiksehingga masa tulang menipis dan tulang menjadi keropos.
4. Sistem pencernaan
a. Anoreksia
          Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi kelencar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan.
   b. Konstipasi
   Meningkatnya jumlah adrenergic akan menghambat pristaltik usus dan spincter anus menjadi kontraksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon, menjadikan faeces lebih keras dan organ sulit buang air besar.
5. Sistem perkemihan
Dalam kondisi tidur terlentang, renal pelvis ureter dan    kandungan kencing berada dalam keadaan sejajar, sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi, pelvis renal banyak menahan urine sehingga menyebabkan:
a. Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah          membentuk batu ginjal.
 b. Tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan  berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan ISK.
6. Sistem integument
 Tirah baring yang lama, maka tubuh bagian bawah seperti  punggung dan bokong akan tertekian sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan,. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi ischemia, hypermis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dankulit dimasase untuk meningkatkan suplai darah.
Pemeriksaan penunjang
1. Foto  rontgen : Mengidentifikasi abnormalitas tulang.
2. Skan CT           : Mengidentifikasi lesi neoplastik, osteomielitis, pembentukan hematoma.
3. LED                  : Mengindikasi respons inflamasi
4. Kultur luka     : Mengidentifikasi adanya luka/infeksi dan organisme penyebab.
5. Biopsy             : Mengkonfirmasikan diagnose masa benigna/maligna.
Penatalaksanaan amputasi
Amputasi dianggap selesai setelah dipasang prosthesis yang baik dan berfungsi:                      
1. Rigid dressing
     Yaitu dengan menggunakan pleter of paris yang dipasang waktu dikamar operasi. Pada waktu pemasang harus direncanakan apakah penderita harus immobilisasi atau tidak. Bila tidak memasang segera dengan memperharikan jangan sampai menyebabkan konstiksi stump dan memasang balutan pada ujung stump serta tempat-tempat tulang yang menonjol. Setelah pemasangan rigid dressing bisa dilanjutkan dengan mobilisasi segera, mobilisasi setelah, 7-10 hari post operasi dengan mobilisasi segera, mobilisasi setelah luka sembuh. Setelah 2-3 minggu setelah luka stump dan mature.
2. Soft dressing
Yaitu bila ujung stump dirawat secara konvensional, maka digunakan pembalut steril yang rapid an semua tulang yang menonjol dipasang bantalan yang cukup. Harus diperhatikan penggunaan elastic verban jangan sampai menyebabkan kontriksi pada stump. Ujung stump dielevasi dengan meninggikan kaki tempat tidur, melakukan elevasi dengan mengganjalkan bantal pada stump tidak baik sebab akan menyebabkan fleksi kontraktur. Biasanya luka diganti balutan dan drain dicabut setelah 48 jam. Ujung stump ditekan sedikit dengan sopt dressing dab pasien diizinkan secepat mungkin untuk berdiri setelah kondi8sinya mengizikan. Biasanya jahitan dibuka pada hari ke 10-14 post operasi. Pada amputasi diatas lutut, prenderita diperingatkan untuk tidak meletakkan bantal dibawah stump, hal ini perlu diperhatikan uuntuk mencegah terjadinya kontraktur.

D. Masalah yang Lazim Muncul      
      1. Hambatan mobilisasi fisik b.d kehilangan anggota tubuh
      2. Nyeri akut b.d terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan otot
      3. Deficit perawat diri b.d kurangnya kemampuan merawat diri
      4. Kerusakan integritas kulit b.d tirah baring yang lama
      5. Resiko infeksi b.d adanya luka yang terbuka
      6. Ganggaun citra tubuh.

E. Discharge Planning
1. Berikan dukungan terhadap penderita
2. Pelajari atau tanyakan alat bantu yang harus digunakan
3. Motifasi penderita untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki sehingga dapat menghilangkan perasaan harga diri rendah
4. Damping selalu penderita dalam melakukan aktifitas sebelum dapat beradaptasi dengan baik.
             
 
      







Daftar pustaka  
Arthur C. Guyton and john E. Hall (1997), Buku Ajar Fisiologi kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar