Amputasi
A.Defenisi
Hilangnya sebagian alat
gerak yang menyebabkan ketidakmampuan sesorang dalam derajat yang bervariasi
(tergantung dari luas hilangnya alat gerak, usia pasien, ketepatan operasi dan
manajemen paksa operasi). (Turck SL) kehilangan sebagian alat gerak akan
menyebabkan ketidakmampuan seseorang untuk melakukan aktivitas. Kehilangan alat
gerak tersebut dapat disebabkan berbagai hal, seperti penyakit, faktor cacat
bawaan lahir, ataupun kecelakaan. Operasi pengangkatan alat gerak pada tubuh
manusia ini disebut dengan Amputasi. (D.jumeno)
Amputasi dapat dianggap
sebagai jenis pembedahan rekonstruksi drastic, digunakan untuk menghilangkan
gejala, memperbaiki fungsi dan menyelamatkan atau memperbaiki kualitas hidup
pasien.
B.Etiologi
Indikasi utama bedah amputasi adalah karena :
1. Iskemia karena penyakit
reskulasisasi perifer biasanya pada orang tua seperti klien dengan artherosklerosis,
diabetes mellitus.
2. Trama amputasi bisa diakibatkan karena perang, kecelakaan,
tremal injury, seperti terbakar, tumor, infeksi, gangguan metabolisme seperti
pagets diseae dan kelainan kegenital.
Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas terbagi
menjadi dua letak amputasi yaitu:
1. Amputasi dibawah lutut (below knee
amputation)
2. Ekstremitas diatas lutut
C. Manifestasi Klinis
Dampak masalah terhadap system tubuh
Kecepatan metabolism
Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan
menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam
darah sehingga menurunkan kecepatan metabolism basal.
Ketidakseimbangan cairan dalam elektrolit
Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses
ketabolisme lebih besar dari anabolisme, maka akan mengubah tekanan osmotic
kolid plasma, hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luas
keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema.
Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan
kecemasan yang akan membarikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk
menghemat pengeluaran ADH, sehingga terjadi peningkatan dieresis.
1. System respirasi
a. Penurunan kapasitas paru
Pada klien immobilisasi dalam posisi
barang terlentang, maka kontraksi
otot intercosta relative kecil, diafragma otot perut dalam rangka mencapai
inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa.
b. perubahan perfungsi setempat
dalam posisi tidur terlentang, pada sirkulasi
pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfungsi setempat, jika
secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolism (karena latihan atau
infeksi) terjadi hipoksia.
c. Mekanisme batuk tidak efektif
akibat immobilisasi terjadi penurunan
kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi muklus cenderung menumpuk
dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal.
2. System kardiovaskuler
a. Peningkatan denyut nadi
terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolic, endokrin dan metabolisme pada
keadaan yang menghasilkan adrenergic sering dijumpai pada pasien dengan
immobilisasi.
b. Penurunan cardiac reserve
Dibawah pengaruh adrenergic
denyut jantung meningkat, hal ini
mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup.
c. Orthostatik Hipotensi
pada keadaan
immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer, dimana anterior dan venula tungkai berkontaksi
tidak adekuat, vasolidatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga
darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah, volume darah yang bersikulasi
menurun, jumlah darah ke ventrikel saat diastolic tidak cukup untuk memenuhi perfusi
ke otak dan tekanan darah menurun, akibatnya klien merasa pusing pada saat
bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan.
3. Sistem Muskuloskeletal
a. Penurunan kekuatan otot
Dengan adanya immobilisasi dan gangguan system
vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan,
demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga
menjadikan kelelahan otot.
b. Atropi otot
Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya
penurunan fungsi persarafan. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan
paralisis otot.
c. Kontraktur sendi
Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya
keterbatasan gerak.
d.
Osteoporosis
Terjadi penurunan
metabolism kalsium. Hal ini menurunkan persenyawaan organic dan
anorganiksehingga masa tulang menipis dan tulang menjadi keropos.
4. Sistem pencernaan
a. Anoreksia
Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan
dan mempengaruhi sekresi kelencar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi
serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan.
b. Konstipasi
Meningkatnya jumlah adrenergic akan menghambat pristaltik usus dan
spincter anus menjadi kontraksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam
colon, menjadikan faeces lebih keras dan organ sulit buang air besar.
5. Sistem perkemihan
Dalam kondisi tidur terlentang, renal pelvis ureter dan kandungan kencing berada dalam keadaan sejajar,
sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi, pelvis renal banyak menahan
urine sehingga menyebabkan:
a. Akumulasi endapan urine di renal
pelvis akan mudah membentuk batu ginjal.
b. Tertahannya urine pada ginjal akan
menyebabkan berkembang biaknya kuman dan
dapat menyebabkan ISK.
6. Sistem integument
Tirah baring yang lama, maka tubuh bagian
bawah seperti punggung dan bokong akan
tertekian sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke
jaringan,. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi ischemia, hypermis dan akan
normal kembali jika tekanan dihilangkan dankulit dimasase untuk meningkatkan
suplai darah.
Pemeriksaan penunjang
1. Foto rontgen : Mengidentifikasi abnormalitas
tulang.
2. Skan CT : Mengidentifikasi lesi neoplastik,
osteomielitis, pembentukan hematoma.
3. LED : Mengindikasi respons
inflamasi
4. Kultur luka : Mengidentifikasi adanya luka/infeksi dan
organisme penyebab.
5. Biopsy : Mengkonfirmasikan diagnose masa
benigna/maligna.
Penatalaksanaan amputasi
Amputasi dianggap selesai setelah dipasang prosthesis yang
baik dan berfungsi:
1. Rigid dressing
Yaitu dengan menggunakan pleter of paris yang dipasang waktu dikamar
operasi. Pada waktu pemasang harus direncanakan apakah penderita harus
immobilisasi atau tidak. Bila tidak memasang segera dengan memperharikan jangan
sampai menyebabkan konstiksi stump dan memasang balutan pada ujung stump serta
tempat-tempat tulang yang menonjol. Setelah pemasangan rigid dressing bisa
dilanjutkan dengan mobilisasi segera, mobilisasi setelah, 7-10 hari post
operasi dengan mobilisasi segera, mobilisasi setelah luka sembuh. Setelah 2-3
minggu setelah luka stump dan mature.
2. Soft dressing
Yaitu bila ujung stump dirawat secara konvensional, maka
digunakan pembalut steril yang rapid an semua tulang yang menonjol dipasang
bantalan yang cukup. Harus diperhatikan penggunaan elastic verban jangan sampai
menyebabkan kontriksi pada stump. Ujung stump dielevasi dengan meninggikan kaki
tempat tidur, melakukan elevasi dengan mengganjalkan bantal pada stump tidak
baik sebab akan menyebabkan fleksi kontraktur. Biasanya luka diganti balutan
dan drain dicabut setelah 48 jam. Ujung stump ditekan sedikit dengan sopt
dressing dab pasien diizinkan secepat mungkin untuk berdiri setelah kondi8sinya
mengizikan. Biasanya jahitan dibuka pada hari ke 10-14 post operasi. Pada
amputasi diatas lutut, prenderita diperingatkan untuk tidak meletakkan bantal
dibawah stump, hal ini perlu diperhatikan uuntuk mencegah terjadinya
kontraktur.
D. Masalah yang Lazim
Muncul
1. Hambatan mobilisasi fisik b.d
kehilangan anggota tubuh
2. Nyeri akut b.d terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan otot
3. Deficit perawat diri b.d kurangnya kemampuan merawat diri
4. Kerusakan integritas kulit b.d tirah baring yang lama
5. Resiko infeksi b.d adanya luka yang terbuka
6. Ganggaun citra tubuh.
E. Discharge Planning
1. Berikan dukungan terhadap
penderita
2. Pelajari atau tanyakan alat bantu
yang harus digunakan
3. Motifasi penderita untuk
mengembangkan kemampuan yang dimiliki sehingga dapat menghilangkan perasaan
harga diri rendah
4. Damping selalu penderita dalam
melakukan aktifitas sebelum dapat beradaptasi dengan baik.
Daftar
pustaka
Arthur C. Guyton and john E. Hall
(1997), Buku Ajar Fisiologi kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar